Tahun 2008 ini, di Pustekkom banyak terjadi kehebohan. Setelah kehebohan akan dilaksanakannya pelatihan guru seluruh Indonesia dengan konsep distance learning yang jumlah pesertanya bombastis, kini hampir semua bahan ajar (cetak, audio, video) yang dihasilkan Pustekkom akan di-on-line-kan. Waw, jika ini semua terjadi, semua pebelajar di seluruh tanah air ini akan sangat mudah belajarnya. Tidak hanya tergantung oleh buku yang diwajibkan oleh sekolah masing-masing dan gurunya yang dahulu dikenal digugu dan ditiru. Sangat senang sekali mereka yang dengan mudahnya dapat mengakses layanan internet yang katanya internet kita paling mahal. Namun, dibalik semua kemudahan yang disediakan (baca:akan) oleh Pustekkom, bagaimana nasib anak bangsa yang kebetulan memiliki nasib tinggal di daerah yang tidak tersentuh oleh jaringan internet??? (listrik saja masih byar-peet). Anak bangsa yang tinggal di perbatasan dan daerah terpencil???Masihkah mereka dapat menikmati manisnya pendidikan yang diciptakan sesuai dengan kondisi geografis mereka tinggal? Bukan mau mereka tinggal di daerah terpencil, jauh dari hiruk pikuk teknologi internet. Akankah hanya anak bangsa yang tinggal di daerah perkotaan yang terjangkau dengan jaringan internet saja yang cita-citanya dapat tercapai? Jika ini terjadi, maka akan timbul kehebohan berikutnya di Pustekkom. Pustekkom hanya memikirkan pendidikan berorientasi teknologi tinggi, namun sudah meninggalkan pendidikan untuk semua. Para pimpinan Pustekkom harusnya memikirkan anak bangsa yang tinggal di daerah yang tidak tersentuh dengan teknologi tinggi dapat menikmati pendidikan dengan teknologi yang dapat mereka nikmati. Misalnya, dengan masih memproduksi media pembelajaran dan sistem pembelajaran yang dapat membantu anak bangsa di daerah terpencil. Mungkinkah ini terjadi jika big bosnya masih berpikir mengawang-awang tentang teknologi tinggi ?(SMA Terbuka, SMP Terbuka, PSB saja tidak dipedulikan. Boro-boro dipedulikan, ngerti saja belum tentu). Memang pimpinan lembaga kependidikan harus mengerti tentang hakikat pendidikan itu. Pendidikan bukan hanya 1+1=2. Pendidikan bukan ilmu pasti seperti yang kita pelajari di teknik sipil. Semoga kehebohan pertama Pustekkom (pelatihan guru) dapat benar-benar terjadi hebohnya (dalam bentuk kualitas dan kuantitas guru yang dilatihnya juga proses pelatihannya). Jangan awalnya saja yang heboh, tapi saat pelatihan berlangsung, hanya itu-itu saja. Semoga pelatihan ICT terpadu yang tahun 2006 dilakukan, yang awalnya terpikir akan mengasilkan para guru yang ber-ICT, tidak terjadi pada pelatihan 2008 yang rencananya akan melatih ribuan guru dari seluruh Nusantara. Selamat bekerja Tim Pelatihan.
Filed under: Tulisan
Menasehati bos nih? Berani ya.